Penyusunan dan Pelaksanaan RTBL

RTBL sebagai produk “ideal” (ideal dalam tanda kutip) dalam upaya pengaturan bangunan dan lingkungan kawasan kota adalah tidak dapat terlepas dari berbagai kendala dalam penyusunan dan terlebih lagi dalam tahap pelaksanaannya. Hal ini terjadi mengingat produk-produk perancangan yang dihasilkan adalah bersinggungan langsung antara kepentingan public dan private. Pengaturan yang ideal untuk kepentingan publik tentu akan banyak memberikan batasan pada kepentingan private, dan demikian sebaliknya. Bagaimana suatu produk RTBL dapat berada pada keseimbangan kepentingan public dan private tentu merupakan posisi perancangan yang ”ideal” dalam arti sebenarnya.

Berkaitan dengan penyusunan RTBL, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebagai berikut:

  • Perancangan tata bangunan dan lingkungan harus berdasar pada kebutuhan dan aspirasi kondisi dan permasalahan warga/masyarakat setempat, sehingga bentuk analisis dan perancangan yang disusun dapat diterima dalam masyarakat. Suatu konsep study yang sangat baik, namun butuh usaha ”luar biasa” untuk implementasinya.
  • Perancangan elemen-elemen bangunan dan lingkungan harus dapat membentuk citra lokal yang seharusnya ”tidak dapat” secara mudah diimplementasikan secara mudah untuk kawasan lain.
  • Ketersediaan data kapling dan masa bangunan eksisting menjadi syarat utama yang seringkali tidak tersedia. Hal ini tentu bukan merupakan kendala biaya biaya pengukuran tapak kawasan dan bangunan dapat dilakukan.
  • Bahwa produk RTBL hendaknya berbasis perancangan secara tiga dimensi dan tidak lagi hanya mengkaji aspek fungsi dan tata ruang.
  • Produk RTBL tidak hanya berhenti pada tampilan gambar-gambar perspektif yang ”idealis” dan sangat menarik, namun menekankan pula aspek realisasinya di lapangan.
  • Semua bentuk pendekatan dan perancangan harus dapat disertai dengan arahan dan manajemen dalam realisasi pelaksanaan, termasuk berbagai insentif dan disinsentif yang akan diterapkan.
  • Keterbatasan biaya untuk penyusunan produk RTBL dapat menjadi ”akar” permasalahan mengenai kualitas produknya, walau hal ini tidak selalu bersifat ”mutlak”.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: